Jumat, 15 September 2017

Candi Sumberawan, Jejak Eksotik Masa Lampau dengan Sumber Mata Air di Sekelilingnya



Candi Sumberawan ada yang mengatakan Stupa Sumberawan yang didirikan sebagai tempat pemujaan dengan di sekelilingnya terdapat mata air. Dok pribadi 
Air adalah sumber kehidupan bagi makhluk hidup di muka bumi ini. Baik itu bagi tumbuhan, hewan, terlebih manusia. Manusia bisa bertahan dengan tidak makan, namun tidak halnya dengan minum. Betapa pentingnya air dan itu suatu bentuk anugerah bisa mendapatkannya. Orang rela berjalan berkilo-kilo untuk sekadar mendapatkan satu atau dua ember, seperti yang terjadi di daerah yang kekeringan.

Air yang mengalir tentu ada sumber pertamanya. Di daerah tropis seperti Indonesia mata air merupakan penyumbang keberadaan air di permukaan yang kemudian membentuk sungai yang akhirnya  bermuara ke laut. Tidak semua daerah dapat memancarkan mata air dengan deras. Air seakan memancar langsung dari tanah, tampak bening dan menyegarkan. Situasi mendekati bayangan surga seperti yang tertulis di kitab suci.

Kondisi yang penuh “keajaiban” itu bisa kita lihat di Dusun Sumberawan Desa Toyomarto Kecamatan Singosari Kabupaten Malang. Dari beberapa tempat sumber air memancar deras dari dalam tanah yang kemudian mengalir ke sungai kecil, dan sisanya menggenang membentuk telaga. Di sekelilingnya begitu hijau dengan berada di kawasan hutan yang dikelola Perhutani dan lahan pertanian warga. Pepohonan hijau tumbuh liar disekitarnya. Kesan teduh dan menyejukkan begitu berasa berada di tempat ini. Suatu tempat yang eksotik, yang menjaga wajah kealamiannya tanpa “make up” yang berlebih apalagi menor. 

Pintu masuk menuju kawasan candi. Lalu menuju pos untuk mengisi buku tamu. Dok pribadi
Kawasan sumber air ini bertambah istimewa sebab berdiri bangunan bersejarah yang populer dengan nama Candi Sumberawan dan ada yang menyebutnya Stupa Sumberawan. Seperti penjelasan wikipedia candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Singosari, pendapat lain menyatakan didirikan periode Kerajaan Majapahit pada abad 14 dan 15. Saat ini kawasan candi ini di bawah naungan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur. Candi Sumberawan tidaklah begitu besar dibuat dari batu adesit dengan ukuran panjang 6,25 m, lebar 6,25 m, dan tinggi 5,23 m. Restorasi pertama dilakukan zaman kolonial Belanda tahun 1937. 

Setelah restorasi seperti yang terbentuk saat ini, beberapa batuan lagi belum tersusun sempurna. Dok pribadi
Sayang candi ini tidak pada posisi utuh masih ada beberapa bagian batu lagi yang masih mencari bentuk. Disinyalir beberapa bagian batu yang lain belum ditemukan ataupun -bisa jadi- hilang dalam perkembangan sejarahnya dulu. Menurut keterangan para ahli, dengan corak stupa maka menunjukkan latar belakang keagamaan yang bersifat Buddhisme.  Tidak seperti candi yang lain, stupa di Sumberawan ini tidak memiliki tangga dan bukan tempat menyimpan benda suci. Maka diperkirakan candi ini didirikannya untuk tujuan pemujaan.


Sebagai peninggalan sejarah tentu kita bangga, hal ini menunjukkan nenek moyang kita dahulu sudah berkebudayaan tinggi. Sumber mata air yang ditemukan itu dirawat dengan baik, dan tidak jauh dari situ dibuatkan bangunan candi.  Kearifan lokal pun terpelihara. Keberadaan candi ini dipercaya sebagai alat untuk mengubah mata air dibawahnya menjadi air kehidupan atau air suci, amerta dalam bahasa sansekerta.  Air yang meluber itu membentuk telaga, yang beberapa bagian tersekat dengan pembatas yang sengaja dibangun. Air yang melimpah ini juga dipergunakan sebagai pengairan persawahan serta bahan baku air yang dikelola PDAM Kabupaten Malang.   

Mata air yang menyembur dari tanah. Masih di areal candi (dalam pagar berduri), sengaja dibangun untuk memudahkan pengunjung menikmati mata air ini. Sekaligus sebagai tempat ritual yang tampak taburan bunga dan sesaji. Dok pribadi
Kawasan Candi Sumberawan tidaklah terlau luas, sebagai pembatas dipagari kawat berduri di sekelilingnya. Di dalamnya terdapat taman yang ditata rapi dan terawat dengan candi berada di tengahnya. Di dalam kawasan candi setidaknya ada dua mata air dengan dipercantik bangunan yang bisa dipakai untuk pemanfaatan airnya. Bisa sekadar untuk membasuh muka. Dan di lain sisi dipakai untuk ritual yang tampak ada kembang dan sesaji di sekitarnya. Masih di kawasan candi terdapat pancaran mata air di sekitar taman walau debitnya kecil. Dan di luar kawasan yang dipagari terdapat mata air yang memancar deras yang kemudian mengalir ke sungai kecil dan membentuk telaga.


Bersebelahan kawasan wisata baru
Di awal tahun 2016 saya mengunjungi kawasan ini. Suasananya sunyi dan sepi, maklum Candi Sumberawan memang tidak dikhususkan untuk dijadikan tempat wisata komersil. Mengunjungi candi ini lebih karena ada aspek kesejarahan sama seperti Candi Singosari yang jaraknya sekitar 6 Km dari Candi Sumberawan. Saya kunjungi kembali tempat ini awal September lalu, yang ternyata sudah ada kawasan wisata bersebelahan dengan kawasan candi yang diberi nama Kampoeng Wisata Sumberawan. Tempat ini mulai dioperasionalkan sekitar bulan September 2016.

Pintu gerbang Kawasan hutan pinus yang difungsikan sebagai wisata alam kerja sama Perhutani dan LKDPH Toyoarto, letaknya bersebelahan dengan Kawasan Candi Sumberawan. Dok pribadi
Kawasan wisata yang masih wilayah Perhutani, yang kelola bersama Perhutani dan Lembaga Kemitraan Desa Pengelola Hutan (LKDPH) Desa Toyomarto. Sebuah kawasan wisata dengan membangun beberapa hiasan di sekitar jajaran pohon pinus. Tujuannya seperti kawasan milik Perhutani yang lain, diberdayakan untuk wisata alam sekaligus berfoto ria yang se-Instagramabel mungkin. Tampilannya masih sangat sederhana tetapi lumayan bagi yang suka berfoto, disamping mengunjungi Candi Sumberawan. Tempat ini juga bisa dipakai untuk berkemah setelah terlebih dahulu mengajukan izin di kantor Perhutani yang berada di Kota Malang.

Hutan pinus yang dihiasi untuk bisa dipakai sebagai latar berfoto. Dok pribadi
Ada kemajuan layanan dengan bertambahnya lokasi wisata ini. Parkir kendaraan lebih tertata, dengan memanfaatkan lahan milik warga. Memasuki kawasan ini dikenakan biaya 5 ribu rupiah yang termasuk asuransi didalamnya. Untuk memasuki kawasan Candi Sumberawan akan melalui kawasan baru ini. Sedangkan masuk ke area Candi Sumberawan sebenarnya tidak perlu membayar, hanya mengisi buku tamu dan mengisi “kas” seikhlasnya. Jam buka kawasan candi ini 7.30-16.00.

Cara menuju lokasi   
Bagaimana akses menuju lokasi Sumberawan yang terdapat candi bersejarah dan sumber mata air ini? Untuk akses jalan sebenarnya tidaklah begitu buruk. Masih masuk dari jalan utama Malang-Surabaya melalui jalan umum yang sudah beraspal. Namun untuk menuju lokasi masih melalui jalan kampung yang kondisinya masih berbatu. Untuk kendaraan roda empat masih bisa dilalui dengan tidak sisipan. Menuju ke lokasi Candi Sumberawan memang lebih nyaman mengunakan kendaraan pribadi. Kendaraan umum banyak melewati jalan utama jalur Malang –Surabaya, hanya untuk masuknya jarang kendaraan umum yang lewat.   

Jalan masuk dengan penanda gapura. Masih sekitar 500 meter lagi untuk sampai di lokasi. Dok pribadi
Terus bagaimana pengunjung dari luar kota. Tidak perlu khawatir. Jika melalui jalur udara bisa turun di Bandara Abdulrachman Saleh Malang, sedangkan untuk kereta api turun di Stasiun Malang. Jika naik bis dari arah Surabaya bisa turun di Singosari, jika dari arah selatan bisa menuju Terminal Arjosari di lanjut angkutan jurusan Lawang dan turun di Singosari.  Untuk akses jalur udara ataupun kereta api sudah banyak tersedia, untuk lebih mudahnya bisa memesan secara online di tiket.com. Demikian pula bila memerlukan penginapan dapat reservasi di tiket.com, tersedia yang tipe budget sampai yang berbintang. Terdapat beberapa promo dan paket hemat lainnya.

Jika tidak ingin ribet urusan angkutan kendaraan menuju lokasi Sumberawan bisa memesan melalui layanan berbasis applikasi (sepeda motor dan mobil). Jika ingin lebih santai lagi dapat memesan sewa mobil selama 12 jam atau lebih (termasuk supir) melalui tiket.com. Dengan cara ini selain dapat mengunjungi Kawasan Candi Sumberawan, jika ada sisa waktu bisa berkelana ketempat wisata lain di Malang Raya yang tersebar di beberapa titik.

Biarkan jadi surga tersembunyi
Kawasan Candi Sumberawan adalah tempat sejarah, yang juga terdapat sumber mata air di sekelilingnya. Dan biarkanlah kawasan ini dikunjungi oleh “pengunjung khusus” yang peduli akan kelestarian sejarah dan alam. Di sana kita akan belajar bagaimana nenek moyang kita menghargai alam dan memperlakukannya dengan semestinya. Saya merasa kawasan ini tidak cocok dijadikan tempat wisata komersil. Tempatnya yang terpencil dan bukan tempat wisata utama membuat Candi Sumberawan cukup “aman” demikian pula dengan mata airnya dari serbuan wisatawan. 

Di luar kawasan Candi Sumberawan yang terpagari kawat berduri, sumber airnya memancar cukup deras sehingga membentuk genangan. Di sebelahnya lagi tampak telaga yang segaja untuk dibendung. Dok pribadi
 
Tampak telaga yang luas di sekitar kawasan Candi Sumberawan. Dok pribadi
Menjadikan kawasan yang alami dengan teduh, asri, dan dan bersahaja adalah nilai lebih di era modernisasi ini. Masih mendengarkan kicauan burung, serta gemercik air adalah kedamaian tersendiri. Apalagi melihat air yang mengalir jernih dari sumber utamanya adalah pengalaman yang tidak setiap saat bisa terlaksana. Kita perlu juga belajar dari ruang sunyi bagaimana memperlakukan alam secara bijak, seperti yang dilakukan nenek moyang kita dahulu yang jejaknya bisa kita lihat sampai saat ini. Generasi saat ini dan mendatang perlu diwariskan sesuatu yang bersifat adiluhung.

Mengeksploitasi alam secara berlebihan tentu tidak baik apalagi hanya urusan ekonomi semata. Ketika tempat menjadi ramai maka sesuatu yang berbau komersil akan timbul dengan sendirinya. Kawasan Candi Sumberawan dan hutan disekitarnya yang asri -bisa jadi- akan terancam keberadaannya. Dan lebih celaka lagi bila sudah mengancam keberadaan sumber airnya. Kita berharap Candi Sumberwan dan mata airnya terus dapat berdiri berdampingan dengan lestari. Semoga kesadaran pentingnya air itu tumbuh walau keberadaannya melimpah, sehingga bisa menjaga dan merawatnya. Sepertinya Sumberawan tidak perlu perhatian lebih dengan banyaknya wisatawan jika dimaksudkan hanya urusan komersil, sedikit lebih berarti dengan menjadi pengunjung yang bertanggung jawab.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar