Sabtu, 18 Maret 2017

Visit Tidore Island – Masa Lampau yang Jadi Rebutan, Masa Kini Perlu di Tumbuhkan lagi


Pantai yang jernih dengan latar gunung, pesona tersendiri di Tidore. Foto: nationalgeographic.co.id

Maluku dengan lebih spesifiknya Tidore dan Ternate adalah daerah yang tercatat sebagai bagian sejarah Indonesia dari masa lampau yang perlu diperhatikan. Seperti yang pernah diajarkan pada pelajaran sejarah masa duduk di sekolah dahulu, Tidore dan sekitarnya merupakan penghasil rempah-rempah yang ternama. Pala, lada, cengkeh tumbuh begitu subur dan menjadi primadona saat itu. Komoditi tersebut tidak saja menjadi bahan perdagangan yang mengiurkan di asia tetapi sampai benua eropa.

Pada awal abad 16 sekitar tahun 1600 bangsa eropa sudah beranjak pada kemajuan. Rempah-rempah pun hendak mereka cari pada sumbernya. Beberapa negara seperti Portugis dan Spanyol berlomba mengarungi lautan untuk mencoba menaklukkan dunia. Begitu berharganya rempah-rempah seperti layaknya emas pada waktu itu. Pada akhirnya beberapa negara eropa lainnya “ikut-ikutan” untuk ekspansi menjelajah dunia yang kemudian mengawali adanya kolonialisme.


Kekayaan yang dimiliki Maluku itu seperti dua sisi mata uang yang saling berkebalikan: anugerah sekaligus “musibah”. Dan rupanya ada bangsa asing yang ingin menguasai daerah tersebut. Sejarah mencatat Spanyol, Portugis, ataupun Belanda yang mulanya untuk tujuan ekonomi akhirnya tergoda juga pada urusan politik yaitu melakukan kolonisasi.

Dan pada akhirnya negeri yang pada mulanya aman sentosa tersebut menjadi timbul keributan dengan persoalan yang begitu rumit dan kompleks. Kerajaan Tidore dan Ternate berupaya melakukan perlawanan untuk mengusir bangsa asing tersebut yang jelas mengganggu dan mau menang sendiri. Dan di lain waktu dan sisi, Tidore dan Ternate karena faktor politik dan adu domba dari penjajah terlibat saling serang. Tentu yang rugi rakyat Maluku sendiri karena sesama anak bangsa saling bertikai. Pada akhrnya Spanyol, Portugis, atau Belanda dapat dihalau dengan usaha yang susah payah yang banyak menimbulkan korban.

Dan pada akhirnya seperti yang sudah kita lihat saat ini kondisi Maluku termasuk juga Tidore sudah tidak ada gangguan dari bangsa luar, dan bersama dengan saudara sebangsa yang lain untuk berada pada naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kondisi ini patut disyukuri. Tidak ada gangguan lagi dari pihak luar yang menggerogoti kekayaan alam yang melimpah tersebut. dengan kondisi damai tersebut maka kiranya Tidore untuk berbenah diri mengenalkan potensinya lebih luas lagi. Visit Tidore Island perlu dikembangkan lagi.



Mengenang Tidore untuk disinggahi

Jika Zaman dahulu Spanyol, Portugal, atau Belanda begitu getol dengan Tidore sampai akhirnya “terusir” juga. Itu adalah sebuah kenangan sejarah yang tidak mungkin terhapus, Tidore memang layak untuk “diperebutkan”. Dan untuk kondisi saat ini memang kondisi Tidore kurang “perhatian” baik oleh pedagang yang mencari komoditas unggulan, terlebih lagi oleh para turis baik lokal ataupun domestik. 

Melihat dari jejak sejarah tersebut Tidore saat ini bisa dikemas lebih baik lagi untuk dapat perhatian lebih baik lagi. Banyak potensi yang bisa dikembangkan untuk menarik perhatian itu. Tidak hanya turis tetapi juga kalangan lain seperti investor ataupun sejarawan.   

Benteng Tore adalah saksi bisu jejak bangsa asing yang ingin menguasai Tidore. Foto: kompas.com

Peninggalan situs bersejarah. Ada beberapa jejak yang ditinggalkan pengelana bangsa asing seperti benteng Tahula dan Tore  misalnya. Semua jejak sejarah itu bisa di kemas dengan wisata sejarah tempo dulu. Dan bangunan sejarah tersebut bisa menjadi saksi bisu bahwa segala keelokan Tidore mampu mempesona bangsa lain, bahkan berusaha menguasainya. Dan bila semua diceritakan secara runtut dan kronologis itu akan lebih menarik, selain dapat mengenal sejarah masa lalu juga arena pembelajaran memperkaya referensi untuk keadaaan yang lebih baik. 

Di lain sisi, begitu kuatnya keinginan bangsa eropa mengunjungi Tidore dan sekitarnya seperti yang diberitakan Kompas.com, pencarian jejak sejarah di Tidore telah dibuatkan film dokomenter The Odyssey of Spices oleh kru yang datang langsung dari Spayol. Sebuah film yang mengisahkan sejarah kehadiran bangsa Spanyol dan Portugis pertama kalinya oleh penjelajah Fernando de Magelhaens dan Juan Sebastian Elcano di Kepulauan Maluku pada abad 16 dalam pencarian rempah-rempah. Suatu bukti bahwa Tidore merupakan suatu daerah yang diperhitungkan pada masa tersebut.
 
Warisan budaya. Sejak zaman dahulu Tidore sudah ada pemerintahan sendiri yaitu kesultanan Tidore yang dipimpin sultan. Masa keemasannya pada masa awal abad ke-16 sampai abad ke-18 yang dapat menguasai sebagian besar Pulau Halmahera selatan, Pulau Buru, Pulau Seram, dan pulau-pulau di pesisir Papua barat. Sampai saat ini Kesultanan Tidore masih tetap berdiri dan terdapat pula kratonnya walaupun tidak memiliki wewenang pemerintahan seperti yang ada di Jogjakarta. Betapapun juga keberadaan Kesultanan Tidore tersebut merupakan khazanah kekayaan sosial budaya yang perlu dilestarikan dan menjadi daya tarik tersendiri. Kekayaan budaya lain seperti adat istiadat, kuliner, pakaian dan lainnya mempunyai identitas tersendiri seperti juga daerah lainnya. Dan Tidore kaya akan hal tersebut yang bisa di eksplorasi lebih dalam lagi.   

 
Kraton Tidore selain ada secara fisik, juga beragam budaya menyertainya. Foto: kompas.com

Kekayaan alam. Adanya rempah-rempah merupakan kekayaan tersendiri yang merupakan anugerah bagi Tidore. Jika bangsa eropa begitu getol menguasai kekayaan alam itu, maka pada kondisi saat ini bisa dipakai oleh para investor untuk mengembangkan usaha. Kembangkan rempah-rempah yang ada di Tidore untuk bisa di distribusikan ke seluruh nusantara bahkan syukur-syukur bisa ekspor. Pemerintah pusat, provinsi, dan daerah harus bisa sinergi. Jangan sampai menjadi berita yang ironi seperti yang dilansir detik.com bahwa cengkeh pun saat ini masih perlu impor.

Keindahan alam. Sebagai negara kepulauan tentu wilayah pesisir menjadi andalan wisata. Tidore juga dikaruniai pantai yang indah seperti Pantai Cobo dan Pantai Akesabu yang layak untuk disinggahi. Kelebihan dari pantai ini adalah terdapat pemandangan gunung dan ataran tinggi lainnya, sehingga dapat berwisata dua sekaligus: gunung dan pantai.

Itulah berbagai potensi Tidore yang layak diangkat ke pentas yang lebih tinggi. Dukungan semua pihak perlu disinergikan baik dari pemerintah ataupun swasta. Cukup “mubazir” bila semua potensi Tidore itu berlalu begitu saja. Cara yang termudah sebenarnya adalah memperbaiki dan menyiapkan infrastuktur yang ada. Penyediaan bandara dan pelabuhan yang mumpuni adalah sebuah keharusan. Jika infrastruknya sudah bagus maka tingkat kunjungan akan bertambah. Dan dengan demikian dengan kemudahan dan kenyamanan tersebut maka biaya perjalanan menuju Tidore dan sebaliknya akan lebih terjangkau.

Dan jika Tidore bisa ramai maka ekonomi maka ekonomi akan bergeliat, baik tingkatan lokal ataupun nasional. Sudah saatnya pengembangan potensi terutama wisatanya memperoleh tempat di hati masyarakat Indonesia. Sehingga semua orang berkeinginan untuk mengunjunginya demikian pula dengan saya pribadi ingin mengeksplorasi secara langsung, dan semoga hal itu dapat terwujud.    


http://annienugraha.com/lomba-menulis-blog-tidore-untuk-indonesia/


2 komentar:

  1. Tidore emang keren banget. Pengen sekali berkunjung ke pantai pantainya seperti Maitara yang ada di uang kertas pecahan 1000 rupiah, lalu berenang sambil liat ikan ikan dan trumbu karangnya, pasti seru banget. Btw moga sukses ya artikelnya ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin mas...Penasaran juga pada masa lampau bangsa eropa yang ingin menguasainya, tentu Tidore dan sekitarnya mempunyai daya tarik tersendiri.

      Hapus